Irmante Astalavista

Simsalabim!!!
Blog ini bercerita tentang dunia IT, ilmu kebumian, dan lain-lain.

Thursday, September 17, 2009

Menebak Potensi Kemacetan Saat Lebaran

Tahun 2007 lalu Saya nebeng kakak ipar untuk mudik. Perjalanan dari Jakarta ke Jogja plus istirahatnya, ditempuh dalam waktu 30jam!. Benar-benar terjebak dalam puncak arus mudik 2007. Rasanya seperti naek mobil di rute Warung Buncit Mampang sepanjang jalan dari Jakarta ke Jogja, cuman bedanya mobil hanya boleh satu jalur sisanya motor. Cuapeeek, dongkol, bete, campur aduk. Belum macet total sampe bisa matiin mesin 2-3 jam. Itu bener-bener pengalaman buruk sekaligus berharga dalam memilih waktu mudik dan alat transportasi mudik di lain waktu.
Di Inggris atau Amrik, pencatatan data volume kendaraan per ruas jalan itu sudah berlangsung selama 30 tahun lebih. Dengan sekian banyak data yang masuk itu, durasi lampu pengatur lalu lintas (lampu bangjo) diujung ruas jalan berubah secara otomatis berdasarkan sekumpulan algoritma rumit... sekilas Saya dengar kalimat tsb di Discovery Channel.
Gara-gara pengalaman mudik tsb dan informasi Discovery Channel Saya coba berpikir bagaimana cara menebak potensi kemacetan saat lebaran. Kemacetan merupakan suatu hal yang diusahakan untuk dihindari saat mudik. Intinya orang ingin cepat sampai tujuan dalam periode waktu tertentu yang harapannya secepatnya alias As Soon As Possible, atau kalo nggak ya... masih dalam batas yang dapat ditolelir.
Ada bbrp cara yang terlintas dibenak Saya:
1. Berdasarkan pengolahan Geographical Information System
2. Berdasarkan informasi realtime secara manual
3. Berdasarkan waktu hari lebaran

#####Berdasarkan analisis GIS#####
Bayangan ideal Saya adalah, user memasukkan input:
a. titik awal perjalanan
b. titik akhir perjalanan
c. lalu muncul pilihan rute berdasarkan:
- jarak ruas jalan terpendek.
- rute waktu tempuh terpendek saat ini.
- prediksi rute waktu tempuh terpendek, saat ini untuk x jam kedepan/tanggal tertentu. Sangat idealis implementasi network analyst GIS yang pas untuk mudik lebaran dengan kondisi pendataan ruas jalan di Indonesia saat ini. So far, kita hanya mampu melihat peta cetak/digital yang menampilkan tematik jalur utama, jalur alternatif, tempat peristirahatan, tempat servis, lokasi rawan macet, tempat isi bensin, dst. Peta digital yang itu-itu saja, dan bukan peta GIS hasil analisis multi kriteria dalam ilmu geografi yang Saya pelajari.

Faktor yang penting untuk mudik adalah waktu tempuh dari sebuah ruas jalan.
Saya mengambil contoh di salah satu ruas Jakarta, misalnya hari Minggu pagi 2 pagi, dari Warung Buncit lewat Mampang Prapatan, hingga batas simpang flyover Kuningan Gatot Subroto Jakarta asalkan kita berhati-hati bisa ditempuh 10 menit. Beda dengan hari Senin, start jam 8 pagi, pada rute yang sama, waktu tempuhnya mencapai 1.5jam. Perbedaan waktu tempuh ini dipengaruhi kecepatan kendaraan yang bisa dicapai pada
ruas jalan tersebut. Artinya kecepatan rata-rata kendaraan itu berbanding lurus terhadap waktu tempuh. Makin cepat kendaraan melaju, maka waktu tempuhnya jg semakin singkat.
sumber foto: detik.com

Waktu tempuh ini dipengaruhi oleh:
1. Dimensi Jalan
Semakin lebar jalan cenderung semakin singkat waktu tempuh karena daya tampung kendaraan per ruas jalan semakin besar terhadap volume kendaraan. Semakin banyak kelokan semakin panjang rute yang musti ditempuh dan akan memperlama waktu tempuhnya.
2. Kualitas Jalan
Jalan aspal hotmix akan lebih cepat dilalui dibandingkan jalan berlubang.
3. Volume Kendaraan
Volume kendaraan berbanding lurus terhadap dimensi lebar jalan. Ini salah satu input penting untuk menganalisis rute dengan jarak tempuh tersingkat yang harusnya muncul dalam software GPS navigasi, sementara software GPS navigasi yang berada dipasaran menghitung rute terdekat berdasarkan dimensi panjang ruas jalan saja.

Target utamanya adalah cepat sampai, bukan cuman rute dengan waktu tempuh yang terpendek. Setiap segmen ruas jalan yang jumlahnya ratusan ribu, tidak hanya dicatat dimensi dan kualitas jalannya saja, tetapi juga volume kendaraan per durasi waktu pada tanggal tertentu pada ruas sebelah kiri. Volume kendaraan ini merupakan salah satu input perhitungan waktu tempuh yang paling sulit diperoleh, dan sepertinya ini akan menjadi semacam model yang implementasi realnya... suatu ketika.

#####Berdasarkan informasi realtime secara manual#####
Intinya sih acuannya 2 macem indera, pendengaran dan pengelihatan.
Indera pendengaran
Kalo kita berada di Jakarta, bisa dengerin SonoraFM untuk memantau kondisi lalu lintas berdasarkan laporan dari pengendara lain, lalu memutuskan rute mana yang memiliki waktu tempuh tersingkat. Nah parahnya, pengendara laen tuh kadang definisi padatnya lalu lintas itu beragam, ada yang dpt 20km/jam dianggap macet banget, sampe-sampe pemirsanya mengira macetnya total alias berhenti, lalu berbondong2 pindah rute, pdhl bisa jadi pengalaman si penelpon terhadap titik2 kemacetan pada ruas jalan
itu minim. So penolong kelengkapan informasi terletak pada keaktifan si penyiar radio untuk mendapat detil informasi dari si penelpon.
Nah saat mudik, informasi ini muncul dari pihak dephub dan polisi lalu lintas. Mereka berkomunikasi aktif satu sama lain untuk mengatur jalur mudik, misal pengalihan jalur, buka tutup ruas jalan, dst. Yang bisa dilakukan adalah manut ae sama polisi pengatur lalu lintas.

Indera pengelihatan
Kalo kita berada di Jakarta, selain terjebak dalam sebuah kemacetan pada sebuah ruas jalan itu sendiri, pengamatan visual dapat dilakukan melalui alamat jendelajakarta.com atau macetlagi.com. Kita bisa memantau perkembangan sebuah ruas jalan di Jakarta berdasarkan data rekaman CCTV secara realtime. Macet nggaknya sebuah ruas jalan, bisa diamati langsung lewat browser web baik HP maupun komputer. Kelemahannya titik2 yang dipasangi CCTV pengamatan itu terkadang tidak dipasang pas diruas jalan kadang hanya di pintu masuk. Selain itu durasi perekaman 1 frame per detik, sementara mata manusia melihat gerakan normal obyek video minimal pada kecepatan rekam 16 fps alias 16 jepretan / detik. Wajar sih, live streaming itu butuh bandwidth, apalagi di Indonesia yg kanal internetnya mirip intan permata, kecil dan mahal.

Nah kalo lebaran info mudik secara visual ini akan mengalir deras melalui stasiun tipi. Kita bisa mengandalkan LCD TV yang untuk mobil atau membawa handphone bertipi. Informasi pengamatan visual yang berasal dari hasil pantauan stasiun tipi ini akan sangat membantu melihat kondisi realtime kemacetan. Sambil ngeliatin jalan, sapa tau ada informasi pengalihan jalur, buka tutup ruas jalan, informasi longsor, dst dari polisi pengatur lalu lintas atau pihak berwenang lain.
Namun dishub tahun 2009 ini membuat satu web yang bermanfaat buat para netter, meski sementara blm mampu diakses via browser OperaMini atau PocketIE, yaitu CCTV jalur lebaran.


#####Menebak berdasarkan waktu lebaran#####
Pengalaman adalah guru terbaik. Ini memang satu hal yang menjadi protokol wajib tinggal di Jakarta. Misal, mencari jalur alternatif lewat peta, mengamati kapan waktu-waktu senggang dan padat jalur tol, ganti-ganti model alat transport berdasarkan waktu berangkat, berangkat lebih pagi, memperpanjang prediksi waktu tempuh, menggunakan jasa joki 3in1, dst.
Nah, mengenai mudik lebaran, itu beda cerita, intinya adalah orang berpikiran serentak dan similar. Semakin unik waktu dan rute yang dipilih, potensi ketemu macetnya semakin kecil.
Kemacetan dilihat bukan hanya dari nilai hari H - 3, atau 2 atau 1, tapi dilihat dari prediksi waktu libur kantor dimulai dan kapan akan masuk. Kenapa pegawai? Menurut Saya, pegawai, entah kantor pemerintah atau kantor swasta inilah yang mendominasi
arus lebaran berjadwal. Artinya mereka perlu menghitung jatah cuti, volume kerjaan, konsekuensi surat peringatan, dst.
Berbeda dengan wiraswastawan yang bisa memilih waktu mudiknya sendiri bergantung kebutuhannya.
Kalo kepadatan arus mudik itu dirumuskan simpelnya begini:
Kepadatan arus mudik dijalanan = volume kendaraan/waktu
* kepadatan arus mudik dijalanan, dimana nilai makin kecil makin baik
* volume kendaraan, prediksi jumlah pegawai berkendaraan
* waktu dalam satuan hari,
- untuk arus mudik, jumlah hari antara hari H lebaran dihitung mulai dari prediksi cuti pegawai tercepat dan paling realistis.
- untuk arus balik, jumlah hari antara hari H lebaran hingga prediksi hari masuk kantor paling cepat. Biasanya pegawai sih mulai masuk hari Senin.

Misalnya kepadatan kendaraan arus mudik diasumsikan 1jt, kalo waktu cuti pegawai tercepat 4 hari sebelum hari H maka bisa dapet angka 250rb, kalo 3 hari dapet kepadatan 330rb, dst. Untuk kasus arus balik, misal kendaraan volumenya 1jt, kalo hari H ke hari Senin cuman 3 hari, berarti dapet angka 330rb.

Pengalaman th 2007 lalu
Implementasinya dapat dilihat pada mudik tahun 2007 lalu, lebaran jatuh hari Sabtu-Minggu. Sementara orang kantoran dapat libur gratis rata-rata hari Jumat (H-1). Otomatis banyak pegawai yang memilih mengambil cuti 2 hari sebelumnya, so jatuhnya
hari Rabu. Kenapa Rabu? karena hari Rabu itu total cuti mereka 7 hari, sementara waktu total liburnya bisa dapet 12 hari.

-Hasilnya:
- Rabu, rombongan mudik 1 (H-3)
- Kamis, rombongan mudik 2 (H-2)
- Jumat, rombongan mudik 3 (H-1)
- Sabtu/Minggu lebaran.
Kenapa cuti gak diambil hari Senin/Selasa saja? hari Senin itu banyak transaksi yang masih memungkinkan terjadi. So arus mudik cenderung terkonsentrasi dalam waktu yang hanya 3 hari. Hari Rabu itu langsung terjadi puncak arus mudik dari pegawai, karena buanyak yang ijin pulang lebih awal. Jadilah penumpukan arus mudik yg bikin kami terjebak di Cikampek 12 jam dari pintu gerbang tol hingga ujung tol Cikampek Simpang Jomin. Perjalanan dari Jakarta ke Jogja akhirnya ditempuh dalam waktu 30jam.

Untuk arus balik 2007, cenderung terpecah. Pertama, beberapa instansi pemerintah mewajibkan PNS masuk hari Rabu (H+3), sementara untuk pegawai swasta cenderung mengambil jatah cutinya jadi total 7hari, jadi arus balik terjadi pada H + 4/5/6, sehingga konsentrasi arus balik terpecah.

Pengalaman tahun 2008
Beda dengan tahun 2008 ini, lebaran jatuh hari Rabu-Kamis, dari rumus simpel itu prediksi pegawai mengambil cuti 6 hari sebelum hari H, yaitu hari Kamis.

Total cuti jatuhnya pun hanya 5 hari, untuk dapat 11 hari libur, yaitu:

maka arus mudiknya bisa terpecah jadi beberapa periode.
- Kamis/Jumat, rombongan mudik 1 (H-6)
- Sabtu/Minggu, rombongan mudik 2 (H-4)
- Senin/Selasa, rombongan mudik 3 (H-2)
- Rabu/Kamis lebaran.
Periode waktu arus mudik yang mencapai 6 hari, maka kepadatan arus mudik terasa lebih 'longgar'. Sementara arus baliknya, ini dipastikan terjadi penumpukan, yang konten waktu masuknya sama dengan arus mudik 2007, yaitu cuman 3 hari.
- Jumat, rombongan balik 1 (H+1)
- Sabtu, rombongan balik 2 (H+2)
- Minggu-Senin, rombongan balik 3 (H+3)
So dipastikan kepadatan hari itu akan sangat dirasakan oleh para pemudik. Hari Sabtu itu, prediksi Saya terbukti. Perjalanan dari Jogja ke Sampang, Cilacap, ditempuh dalam 8 jam, yang normalnya 4 jam lewat jalur Selatan. Padahal Saya sudah menggunakan rute Daendeless Kulonprogo, hingga bisa sampai daerah Gombong dlm waktu 3 jam, normalnya sih tinggal 1/2jam lagi dah sampe rumah mertua. Alih-alih ngejar 1/2 jam lagi itu Saya salah pilih rute ke arus balik rute Gombong, mustinya lewat Pantai Ayah wilayah Selatan Gombong. So akhirnya 1 jam terjebak kepadatan arus balik utama lewat Gombong plus matikan mesin, ditambah isi bensin plus toilet 1/2jam. Akhirnya dpt petunjuk dari petugas pom bensin untuk balik arah lewat Banjarnegara-Banyumas-Kebasen-Sampang, yang totalnya ditempuh dalam waktu 2.5 jam (termasuk tidur dipom bensin banyumas 1/2 jam). Fiuhhhh...

############Cuti vs kemacetan#############
So, dari perkiraan-perkiraan tersebut, maka Saya membuat tabel prediksi untuk panduan saya pribadi dlm menghitung waktu cuti dan perkiraan waktu mudik atau balik pada tabel berikut:
Monggo...

Labels:


0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home